Ukuran Font : Perkecil | Perbesar
Home 23-02-2012

Parpol Islam makin Ditinggalkan

28 Januari 2012 21:11 WIB
Foto : Burhanuddin Muhtadi--MI/Usman Iskandar/sa

JAKARTA--MICOM: Riset yang dilakukan Lembaga Survei Nasional (LSI) menunjukkan kaum muslim Indonesia ternyata kian relijius. Namun, hal ini tidak berbanding lurus dengan meningkatnya perolehan suara parpol bernafas Islam pada pemilihan umum.

Demikian diungkapkan pengamat politik Burhanuddin Muhtadi dalam seminar nasional bertema "Membangun Peradaban Islam" di Universitas Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (28/1).

"Dari sisi sosiologis, kaum muda muslim ternyata makin relijius. Ada semangat born again to be Islam. Jika kita merunut ke belakang, pada tahun 1980-an nyaris tidak kita temui jilbanisasi di masyarakat. Begitu juga santrinisasi," jelas Burhanuddin.

Namun, di sisi elektoral, setiap pemilu demokratis digelar, parpol-parpol bernafaskan Islam justru terus menurun perolehan suaranya. Pada 1955, total partai Islam dapat dukungan 43%, 1999 turun 36%, 2004 naik tipis 38% dan 2009 dukungan yang datang kurang dari 30%.

"Partai-partai nasionalis justru dipandang masyarakat lebih relijius ketimbang partai-partai bernafaskan Islam sendiri. Misalnya Partai Demokrat atau PDI-P dengan mendirikan Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi)," jelasnya lagi.

Hal ini, lanjut Burhanuddin, menunjukkan partai-parati Islam kian kehilangan simpatik dan dipandang tidak mampu lagi mengakomodasi aspirasi masyarakat yang kian beragam.

"Lama kelamaan parpol Islam pun tidak percaya diri dengan garis-garis keislamannya sendiri. Bahkan PKS dalam kongres terakhir telah mendeklarasikan diri sebagai partai tengah yang terbuka. Saya yakin, jika PT (parliamentary threshold) dinaikan 5%, ada parpol Islam yang bakal dimuseumkan," tandasnya. (*/OL-04)





Powered by: + Back to Top

FEATURES:

Profil Perusahaan

Sejarah Singkat

© 2012 MediaIndonesia.com