| Home | 09-02-2012 |
SEMARANG--MI: Universitas Negeri Semarang (Unnes) akan mengkaji kebijakan penggunaan seragam bagi seluruh civitas akademika yang sudah tertuang dalam Keputusan Rektor Unnes Nomor 14/2010, setelah mendapatkan penolakan sejumlah pihak.
"Keputusan ini (penggunaan seragam) memiliki tujuan baik, sebab untuk menghindari kesenjangan antar-mahasiswa," kata Rektor Unnes, Prof Sudijono Sastroatmodjo di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/9).
Dalam kesempatan buka puasa bersama jajaran pejabat Unnes itu, Sudijono mengatakan pihaknya memang menuangkan kebijakan pemakaian seragam, yakni praja muda karana (pramuka), hitam-putih, dan batik.
"Dari kesemuanya, yang paling mendapatkan penolakan adalah penggunaan seragam pramuka. Padahal, ide awal pemakaian seragam pramuka adalah untuk mengilhami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam gerakan tersebut," katanya.
Dengan berseragam pramuka, menurut dia, para mahasiswa diharapkan akan terpantik dan mengilhami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam gerakan pramuka sehingga bermanfaat positif bagi kehidupan.
"Apalagi, peraturan itu dibuat untuk menjaga norma yang ada, misalnya dengan mengenakan seragam pramuka setidaknya menjaga mahasiswa dari keinginan berpakaian yang tidak sesuai citra bangsa," katanya.
Namun, kata dia, apabila peraturan yang telah ditetapkan tanggal 13 Agustus 2010 tersebut mendapatkan sejumlah penolakan dan tentangan, pihaknya akan mengkaji penerapan kebijakan tersebut bagi mahasiswa.
"Kami tidak akan melakukan pemaksaan terhadap penerapan keputusan tersebut dan akan kami evaluasi dan tinjau ulang. Kami tetap akan mengedepankan langkah sosialisasi terkait kebijakan itu," kata Sudijono.
Sejumlah mahasiswa dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes sebelumnya juga menggelar aksi teatrikal pada Rabu (1/9) malam sebagai reaksi penolakan kebijakan Rektor yang mengharuskan mahasiswa dan dosen berseragam.
Para mahasiswa mengidentikkan pemakaian seragam dengan anak yang masih duduk di bangku sekolah. Kebijakan tersebut juga dianggap akan menekan kebebasan berekspresi dari mahasiswa.
Sebelumnya, Unnes mengeluarkan kebijakan kewajiban penggunaan seragam bagi seluruh civitas akademika yang diatur untuk hari-hari tertentu, yakni Senin memakai seragam pramuka, Selasa-Rabu memakai seragam hitam-putih, dan Kamis-Jumat mengenakan batik.
"Kebijakan ini (pemakaian seragam) berlaku untuk seluruh civitas akademika Unnes, termasuk saya sendiri. Kami ingin menghilangkan kesenjangan melalui pemakaian seragam," katanya.
Mahasiswa yang mampu, kata dia, pasti akan memilih mengenakan pakaian yang mahal, sedangkan mahasiswa yang tidak mampu tentunya akan minder sehingga timbul kesenjangan. Selain itu, kata Sudijono, kebijakan pemakaian seragam itu diambil untuk menghindari mahasiswa yang berpakaian tidak sopan dan tidak karuan, misalnya memakai celana yang sobek-sobek. (Ant/OL-2)
+ Back to Top