| Home | 03-09-2010 |
MOGADISHU--MI: Pertempuran antara pasukan pemerintah Somalia dan gerilyawan al-Shabab di bagian utara Mogadishu, Rabu, menewaskan 17 orang dan melukai 65 orang, kata kelompok hak asasi manusia dan petugas pelayanan pertolongan.
Beberapa warga mengatakan al-Shabaab juga telah memenggal dua pegawai perusahaan telekomunikasi di ibukota, yang dituduh oleh gerilyawan terkait-al-Qaida itu telah melakukan mata-mata untuk pemerintah.
Gerilyawan Somalia telah memerangi pemerintah sejak awal 2007 dan pemerintah dukungan-Barat telah terkepung ke beberapa blok ibukota sejak serangan gerilyawan Mei lalu.
Pemerintah menyatakan selama beberapa bulan mereka akan melancarkan serangan besar tapi belum juga melakukan serangan itu. Gerilyawan meningkatkan serangan di berbagai bagian kota itu dalam beberapa pekan belakangan dan pasukan pemerintah membalas dengan menembakkan granat.
"Kami telah mengumpulkan 17 warga sipil yang tewas dan 65 orang lain yang terluka, kami telah membawa mereka ke berbagai rumah sakit," kata Ali Muse, koordinator pelayanan mobil ambulans.
"Sebagian besar dari korban terjadi siang ini ketika pertempuran menjadi lebih sengit. Korban tewas mungkin akan bertambah karena sebagian besar orang yang terluka serius akibat serangan granat. Beberapa orang mungkin akan meninggal di rumah sakit.
Menteri negara untuk pertahanan Somalia mengatakan mereka memperoleh kemenangan ketika menyergap gerilyawan al-Shabaab.
"Kami telah mengepung al-Shabaab dan mengusir mereka. Itu kemenangan bagi kami dan kami akan mengungkapkan korban tewas besok," ujar Sheikh Yusuf Mohamad Siyad Indha Ade.
Siyad mengatakan, beberapa gerilyawan al-Shabaab telah menyerah, sementara mereka menangkap gerilyawan lainnya.
Staf telkom yang dipenggal itu dituduh oleh al-Shabaab telah membantu mengarahkan penenmbakan granat pemerintah ke arah posisi gerilyawan di Mogadishu, kata beberapa warga.
"Kami dapat melihat dua jenasah yang dipenggal itu di jalan tapi kami takut membawanya," kata warga Abdullahi Karshe.
Somalia telah tidak memiliki pemerintah yang efektif selama 19 tahun dan negara-negara Barat dan tetangga mengatakan negara itu telah digunakan sebagai tempat berlindung oleh gerilyawan untuk melancarkan serangan di negara Afrika timur itu dan lebih jauh lagi.
Kekacauan di pantai telah memungkinkan geng-geng perompak untuk tumbuh subur dan mengumpulkan jutaan dolar dari kapal-kapal yang dibajak di Teluk Aden dan Lautan India.
Beberapa warga menuturkan pertempuran meluas setelah tank-tank Uni Afrika bergabung. Para pejabat pemerintah tidak mau berkomentar bahwa pasukan AU telah berperang berdampingan dengan mereka.
"Tank-tank AU bergabung kemudian, memaksa al-Shabaab mundur dengan membawa beberapa jenasah dan gerilyawan yang terluka dalam mobil mereka," ujar warga Ali Samatar. (Ant/OL-04)
+ Back to Top