| Home | 03-09-2010 |
SIDNEY--MI: Indonesia dan Australia menjajaki Free Trade Agrement secara bilateral.
Hal itu diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu kepada wartawan ketika memberikan keterangan pers sebagai tindak lanjut dari joint media conference antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd.
"Kami sedang menjajaki dan saat ini masih dalam tahap visibility study antara kedua negara. Namun, namanya bukan FTA, tetapi economic partnership agreement," ungkap Mary setibanya di Hotel Shangri-La Sidney Australia, Rabu (10/3).
Marie menjelaskan bahwa kerja sama tersebut di luar kerangka kerja sama ASEAN, Australia, Selandia Baru.
"Kami akan mencoba mencari kekosongan dari FTA ASEAN, Australia, New Zealand," ungkapnya tanpa menyebutkan komoditas atau perdagangan seperti apa yang bisa mengisi kekosongan tersebut,
"kita akan lakukan yang tentunya memberikan profit bagi indonesia. Kalau daging kita tidak lakukan sekarang, mungkin 2020," ungkap Marie.
Yang terpenting, lanjut Marie, yakni investasi di bidang pangan. Di mana nantinya akan terbangun ketahanan pangan. "Tentu kita tidak ingin hanya sebagai pasar, tetapi yang terpenting bagaimana investasi masuk sehingga terjaga food security (ketahanan pangan)," kata Marie.
Ia menjelaskan bahwa selama ini perdagangan Indonesia-Australia seimbang antara ekspor dan impor. "Dari dari 2004-2008, rata-rata cukup seimbang. Kadang kita profit, kadang defisit. Mungkin tahun ini bisa diimplementasikan, yang jelas setelah kita meratifikasi beberapa peraturan," katanya. Dan selama ini yang sudah melakukan bilateral free trade dengan Australia yakni Singapura dan Thailand.
Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa mengatakan akan ada beberapa ekspansi perusahaan Australia ke Indonesia, di antaranya Coca Cola, Bank Commonwealth, origin energy dan beberapa perusahaan lain. "Banyaknya rencana ekspansi bisnis ini, karena pemerintah dinilai bisa mengatasi hambatan-hambatan yang menjadi kekhawatiran para investor dalam program 100 harinya," kata Hatta.
Di samping itu, lanjut Hatta, juga akan ada pengembangan wilayah, khususnya kawasan Indonesia timur untuk bidang peternakan dan pertanian. Wujudnya, lanjut Hatta, pemerintah Australia mengeluarkan AUD251 juta untuk membantu Program PNPM.
Hatta mengatakan, pemerintah Australia juga membantu dana sebesar AUD30 juta untuk penanggulangan dan pemulihan daerah yang terkena bencana alam.
Sebelumnya, dalam acara joint media conference antara Kevin Rudd dan Presiden SBY, disepakati adanya peningkatan kerjasama dalam empat bidang yaitu politik, ekonomi, kesejahteraan rakyat (pendidikan) dan lingkungan hidup. (ST/OL-7)
+ Back to Top