| Home | 16-05-2012 |
KETIKA mengetahui kapasitas mesin Chevrolet Captiva diesel yang hanya 1.991 cc pasti akan membayangkan performa lamban sebagaimana layaknya mesin diesel yang kita kenal. Apalagi Captiva Diesel 2.0 VCDi dibebani dengan sistem All-Wheel-Drive yang tentunya akan menambah beban tenaga mesin.
Anggapan itu sontak sirna ketika Anda merasakan sendiri performa kendaraan jenis SUV andalan PT GM Indonesia. Akselerasinya yang begitu ringan, kelincahannya pun patut diacungi jempol. Bahkan kalau tidak mendengar gemeretak suara khas mesinnya, dijamin Anda tidak akan percaya kalau Captiva AWD ini dibekali mesin berbahan bakar solar.
Media Indonesia 'gatal' untuk mencoba kendaraan ini dalam sebuah perjalanan panjang. Kota Yogyakarta langsung terlintas dalam otak. Kami juga sengaja mengajak kerabat untuk mengisi tujuh bangku yang tersedia di dalam Captiva termasuk pengemudi.
Karena perjalanan panjang yang pasti akan memaksa kami bermalam, perlengkapan seperti baju ganti dan alat-alat mandi pun juga kami bawa dan membuat Captiva tidak dapat mengakomodir barang bawaan. Untuk menyiasatinya, kami pinjam kotak bagasi tambahan berlabel Thule yang langsung ditambatkan di atas roofrail yang telah tersedia.
Untuk berjaga-jaga, kami juga membawa sebuah kompresor mini 12 volt dan kabel jumper (power cable) untuk mengantisipasi ban bocor serta berjaga-jaga kalau-kalau aki tidak kuat untuk menghidupkan kendaraan.
Untuk urusan ini kami menganggap penting karena Captiva Diesel AWD tersebut menggunakan transmisi otomatis yang nota bene kalau mesin mogok, tidak bisa dihidupkan dengan cara didorong.
Dan jujur saja, kami juga tidak berharap benar-benar akan menggunakan kabel jumper ini di tengah perjalanan, kecuali untuk membantu kendaraan lain yang mengalami masalah.
Sejak awal perjalanan, kami sudah bisa merasakan karakter mesinnya yang bertenaga sehingga memudahkan kami untuk melewati panjangnya antrean truk-truk dan kendaraan besar yang mulai memadati jalur Pantai Utara menjelang malam.
Terlebih Captiva AWD dibekali transmisi otomatis dengan fitur tiptronic 5-speed sehingga pengemudi bisa merasakan sensasi transmisi manual. Fitur ini sangat terasa manfaatnya saat menyalip kendaraan dan mendaki jalan curam.
Akan tetapi pengemudi tidak perlu khawatir untuk tetap bertahan pada mode otomatis. Karena dengan mode ini saja, mesinnya yang mampu menghasilkan 148 hp pada 4.000 rpm dan torsinya yang mencapai 320Nm pada 2.000 rpm tetap terasa solid.
Torsinya yang luar biasa untuk mesin diesel berukuran kecil ini cukup ampuh untuk melarikan kendaraan dengan cepat tanpa harus membuat mesinnya menjerit. Bahkan saat mendahului pada jalan mendaki tajam menjadi saat yang menyenangkan.
Ketika pengemudi lain merasa situasi itu bukan saat yang tepat untuk menyalip, justu kami merasa sebaliknya. Karena kemampuan mesin diesel Captiva AWD berada di atas rata-rata kendaraan sekelas bahkan jika dibandingkan dengan yang memiliki mesin lebih besar. Bisa dibilang, ini bukan mesin diesel biasa.
Meskipun demikian, bukan berarti Captiva tidak memiliki kekurangan. Saat memasuki tikungan, ukuran pilar A yang tergolong besar menghalangi pandangan pengemudi, terlebih dengan adanya dudukan spion samping yang membuat pengemudi harus sedikit menggeser kepala untuk mengatasinya.
Kondisi ini terasa saat Captiva masuk ke lingkungan perkampungan di kawasan Mengkowo, Kebumen, Jawa Tengah ketika menyusuri jalan sempit di antara rumah penduduk. Radius putarnya yang kurang moderat juga menyulitkan saat bermanuver di lahan sempit.
Untungnya, kendaraan ini memiliki postur yang lumayan tinggi sehingga pandangan untuk memantau sekeliling menjadi lebih leluasa. Bahkan posisi ini sepertinya memberikan rasa percaya diri karena menimbulkan perasaan tinggi dalam segala hal, termasuk status.
Memang benar apa yang menjadi moto salah satu produsen ban terkemuka dunia, 'Power is nothing without control'. Keperkasaan mesin Captiva AWD bisa menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan faktor pendukung lainnya.
Kendaraan ini telah dibekali sederet fitur keselamatan yang
mampu menepis rasa khawatir jika terjadi sesuatu. Mulai dari active
rollover protection (ARP), electronic stability program (ESP), traction
control system (TCS).
Selain itu masih dilengkapi lagi dengan anti-lock braking system (ABS), electronic brakeforce distribution (EBD), hydraulic brake assist (HBA),
dan hill descent control (HDC), semua tertanam subur di Captiva AWD.
Pantas saja jika, Captiva memiliki karakter pengereman yang sangat
akurat. Tidak ada sedikit pun aksi pengereman bertahap hingga mendadak
yang meleset dari yang diharapkan. Hal itu membuat rasa percaya diri
semakin tumbuh untuk memacu kendaraan ini menggapai limit.
Hal itu nyaris tercapai saat menapaki jalan Tol Pejagan yang lengang
saat kami kembali menuju Jakarta. Kondisi jalannya membuat kendaraan
kerap melambung-lambung sehingga kami membatasi lajunya di angka 170
km/jam. Dan itu masih menyisakan banyak spasi di pedal gas.
Kami tidak akan berani memacu kendaraan secepat itu kalau kendaraan tidak memiliki kemampuan pengendalian yang prima. Captiva memiliki karakter pengendalian yang cukup user friendly sehingga kami percaya diri saat melakukannya.
Sayangnya dalam perjalanan kali ini kami sempat kecewa. Pasalnya kami tidak sempat menemukan medan off-road untuk bisa merasakan kemampuan all-wheel-drive Captiva diesel. Walaupun ada, tidak lebih berupa jalan yang berhiaskan bongkahan-bongkahan tanah kering berdebu akibat tidak turunnya hujan berbulan-bulan. (OL-07)
+ Back to Top