| Home | 16-05-2012 |
KALAU bicara wine, semua mata pasti tertuju pada Prancis. Tak salah memang, karena wine Prancis merupakan salah satu wine terbaik di dunia. Namun, juga terkenal mahal dan mewah. Tapi wine murah tak berarti jelek, bahkan bisa sama berkualitasnya dengan wine mahal. Misalnya Lapostolle, wine dari Chili, Amerika Latin.
Lapostolle punya dua wine kelas dunia yang banyak dicari orang. Salah satunya Clos Apalta yang beraroma intens dan kompleks. Wine ini oleh Wine Spectator, sebuah majalah review wine terkemuka, dinobatkan sebagai wine nomer satu pada 2005 lalu.
Lalu kenapa wine Chili ini bisa murah sekaligus berkualitas? Menurut Yohan Handoyo, pakar wine dari Decanter Wine House, Kuningan, Jakarta, ada dua faktor yang membuat wine mahal. Pertama adalah harga tanah perkebunan dan kedua adalah harga buruh.
"Di Chili, harga tanah dan buruh lebih murah, sehingga ongkos produksinya tak semahal di Eropa," jelas Yohan. Selain itu, perkebunan anggur di Chili tergolong aman dari wabah filoxera. Penyakit tanaman ini umum terjadi di perkebunan anggur Eropa, yang bisa menggagalkan panen anggur.
Keunggulan lain yag dimiliki Chili adalah lokasinya yang berbatasan dengan suhu yang drastis. Sebelah timur terdapat pengunungan Andes, sementara disebelah barat berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. Di utara wilayahnya berbatasan dengan guru pasir sedangkan di selatan berbatasan dengan glacier yang dingin.
"Keadaan iklim yang seperti ini membuat kita bisa menanam apa saja. Keadaan tanah yang sangat bagus," ujar Diego Urra, Brand Ambassador Lapostolle, sebuah merek wine Chili.
Bagi yang penasaran, Anda bisa coba wine putih Lapostolle dengan jenis anggur Sauvignon Blanc (2007) dan Chardonnay (2007). Sauvignon Blanc punya rasa yang sedikit "berasap" dan fruity, yang menurut Diego datang dari proses penuaan wine.
Sedangkan Chardonnay selain fruity, juga terasa sedikit aroma tanah di lidah. "Rasa yang soily itu datang dari buah anggur, bukan dari kayu barrel," jelas Diego.
Bagi pecinta wine merah, coba jenis anggur Cabernet Sauvignon dan Cassa Merlot. Ciri khas wine merah adalah rasanya yang agak sepat di lidah.
Cabernet Sauvignon (2008) rasanya lebih kuat dengan konsentrat yang lebih padat. Sementara Cassa Merlot (2007) punya konsentrat yang lebih ringan dan terasa sedikir aroma lada. Biar lengkap, nikmati wine putih dengan daging putih seperti salmon atau ayam. Untuk wine merah, bisa dipasangkan dengan aneka daging merah kesukaan Anda.
Menghadirkan wine hingga sampai ke tangan Anda, ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan. Menurut Yohan, yang juga penulis buku Rahasia Wine ini, membuat wine itu ibarat merawat bayi. "Harus serba hati-hati. Ada satu butir saja anggur jelek masuk pengolahan, seluruh rasa wine satu tangki akan rusak semua," jelasnya.
Hal itu disadari betul oleh produsen wine yang didirikan oleh Alexandra Marnier Lapostolle pada 1994 ini. Selain kondisi tanah yang baik, keahlian dan ketelitian manusia juga sangat menentukan kualitas.
Di Lapostolle, Diego menjelaskan, panen dilakukan saat malam hari, dimana kondisi anggur masih segar. Anggur juga diseleksi dengan tangan sehingga anggur yang diolah betul-betul anggur yang berkualitas baik. Teknik sortir dengan tangan ini sudah jarang sekali dilakukan oleh produsen wine lain di dunia.
"Perkebunan kami juga menggunakan biodynamic system. Berbeda dengan organik, biodynamic menciptakan keharmonisan sistem rantai makanan. Karena itu di peternakan kami juga memiliki sapi, burung-burung, dan unggas," jelas Diego. (*/M-2)
+ Back to Top