| Home | 16-05-2012 |
TEPATNYA di Desa Tirtonirmolo,
Kecamatan
Kasihan, Kabupaten
Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta, sebuah warung
sederhana terbuat dari bambu
dengan luasan 2 x 2 meter.
Tidak ada meja makan, yang
ada hanya kursi dari susunan
bambu yang dipasang setinggi
pinggul orang dewasa.
Tidak susah mencapai wa rung
itu. Jika dari arah Kota Yogyakarta
menyusuri Jalan Bantul, jalur
tersebut akan mengantar kita ke
Pasar Niten di kiri jalan raya.
Dari arah pasar itu, se kitar 200
meter ada tikungan ke kanan.
Sejauh 50 meter dari tikungan
akan terlihat jelas sebuah warung
semipermanen.
Pemilik warung, Rohmiyati,
34, menjajakan menu tradisional
yang cukup tenar di tahun
1814, yaitu tongseng/goreng
bajing (tupai). Menu itu sudah
ada sejak zaman dulu dan
tertera dalam Serat Cen thini,
naskah sastra yang menghimpun pengetahuan dan kebudayaan
Jawa kuno. Selain itu
ditawarkan juga tongseng emprit
maupun codot.
Di Yogyakarta, menu seperti
itu sempat dipopulerkan di
Waroeng Dhahar Pulo Segaran.
Warung itu merupakan bagian dari Tembi Rumah Budaya yang memiliki moto 'Masa Lalu Selalu
Aktual'.
"Sekarang masakan tradisional
itu sudah tidak lagi kita
si apkan setiap hari. Hanya hari-hari
tertentu saja karena alasan
melindungi satwa," kata Manajer
Pemasaran dan Penjualan Tembi
Rumah Budaya, Sugihandono
Kurniawan, baru-baru ini.
Serat Centhini merupakan serat
termasyhur di kebudayaan
Jawa. Serat itu dianggap sebagai
ensiklopedi budaya. Mulai
dari masalah keagamaan, seni
musik, tarian, ramalan, nama-nama
tempat di Jawa, tumbuhan,
siklus kehidupan, erotisme,
sulap, hingga nama makanan.
Karya Serat Centhini dibuat
pada 1742 (tahun Jawa) dengan
sengkalan Paksa Suci Sabda Ji
atau 1814 (tahun Masehi).
Serat Centhini kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Prancis dan Inggris. Naskah
aslinya ada sekitar 6.000 halaman
dan tersimpan di Perpustakaan
Sana Pustaka Keraton
Kasunanan Surakarta.
Dalam bagian naskah yang
tertulis dalam bentuk tembang
macapat itu merekam berbagai
menu makanan dan minuman
di zamannya.
Tidak kurang 400 jenis makanan
tercatat, terdiri dari aneka
nasi (40 jenis), aneka sayur (31
jenis), aneka sayur daging (33
jenis), lauk pauk (150-an jenis),
aneka sambal (46 jenis), aneka
minuman (20 jenis), dan aneka
camilan (ada 70-an jenis).
Aneka nasi (sega) yang terekam
antara lain sega bubur,
sega pulen, sega waduk, sega
liwet, sega londhoh.
Adapun aneka sayurnya antara
lain gudeg, jangan asem
kalenthang, jangan gori, dan
jangan kluwih.
Pada makanan dan minuman
yang ada di Serat Centhini tidak
dijelaskan lebih rinci tentang
cara pengolahan, bahan-bahan
pokok, dan ramuan-ramuan
yang dibutuhkan. Akan tetapi,
sebagian makanan dan minuman
masih sangat di kenali masyarakat
sampai saat ini.
Cukup sulit mencari stok untuk
menu kuliner unik seperti
yang disajikan di warung Rohmiyati.
Menu tongseng bajing yang dia tawarkan kadang tidak
bisa sediakan setiap hari.
Tambah stamina
Setiap minggu rata-rata dia
hanya bisa mencari 20 ba jing.
"Bajing yang kita jual ini hasil
berburu. Saya memperoleh stok
dari penjual bajing yang berburu
hingga daerah Kebumen,
Jawa Tengah," ungkapnya sambil
meracik bumbu tongseng.
Karena sulitnya mencari stok
bajing itu, banyak pelanggan
yang tidak kebagian. Sehingga
sering kali pelanggan meninggalkan
nomor ponsel dengan
maksud agar diberi tahu ketika
stok bajing sudah datang.
Satu porsi tongseng/goreng
bajing dijual Rp20.000. "Peminat
daging bajing cukup banyak.
Tetapi mencari stoknya
harus telaten. Bagi yang sudah
pesan, kalau stok ada, langsung
saya hubungi lewat layanan
pesan singkat," katanya.
Salah satu pembeli tongseng bajing, Viktor Pranyoto, 35,
mengungkapkan, ia pertama
kali mengonsumsi daging bajing
hanya karena penasaran.
Sebagian masyarakat meyakini
daging bajing berkhasiat
menambah stamina pria.
Daging bajing yang dikonsumsi teratur bisa membantu
proses penyembuhan penderita
diabetes, kanker, rematik, dan
lever. "Saya beli daging bajing
karena memang enak. Rasanya
gurih," ungkapnya.
Daging tupai yang ditawarkan
menarik sebagian masyarakat yang menginginkan menu
berbeda. Makanan yang sem pat
menjadi santapan masa lampau
itu kini menjadi incaran pemburu
kuliner eksentrik. (N-4)
+ Back to Top