Imlek Perkuat Keberagaman



Views : 2618 - 05 February 2019, 05:05 WIB

PERAYAAN Imlek 2019 yang jatuh pada hari ini diharapkan menjadi momentum untuk mempererat rasa kebangsaan. Disebut sebagai momentum karena Imlek 2019 bertepatan dengan tahun politik dan menguatnya politik identitas yang mengancam persatuan bangsa.

Imlek mestinya tidak sekadar merayakan kebebasan berekspresi. Benar, keran kebebasan itu sudah dibuka Abdurrahman Wahid (Gus Dur), presiden keempat Republik Indonesia, pada 2001. Pada saat itu Gus Dur membolehkan barongsai dan liong tampil di ruang publik padahal ditabukan selama Orde Baru berkuasa. Itulah tonggak kebebasan berekspresi sesungguhnya.

Kita, sebagai bangsa, patut bersyukur kepada Gus Dur yang membuka sekat-sekat keeksklusifan Imlek. Ruang-ruang politik, ekonomi, dan kebudayaan telah terbuka untuk siapa saja, termasuk saudara kita keturunan Tionghoa.

Imlek di tahun politik mestinya semakin menguatkan persatuan masyarakat Indonesia yang multikultur dan multietnis. Imlek ialah momentum untuk mengembalikan tradisi bangsa yang berlandaskan kesatuan dan kasih sayang.

Masih ada ruang optimistis karena kesatuan dan kasih sayang itu ternyata kian menguat di kalangan masyarakat. Tengok saja kemeriahan perayaan Imlek dengan gelar budaya inkulturasi Grebeg Sudiro di Surakarta, Jawa Tengah, pada Minggu (4/2). Warga dari berbagai latar belakang berebutan kue keranjang dalam acara yang menyimbolkan akulturasi budaya dari warga Tionghoa dan Jawa.

Di sejumlah daerah, dalam beberapa hari belakangan ini, juga nampak pernak-pernik Imlek, seperti lampion dan barongsai. Suasana itu kian memperkuat kekayaan dan keragaman kita sebagai bangsa.

Keragaman adalah keniscayaan. Meskipun kadang ada upaya mengoyak tenun keragaman kita yakin bangsa ini tetap punya tekad untuk hidup bersama sebagai bangsa yang dikukuhkan dalam sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia.

Upaya mengoyak tenun keragaman itu muncul ketika ada segelintir elite yang memolitisasi etnis dan agama warga demi kepentingan elektoral. Jangan biarkan Imlek yang sesungguhnya merupakan media pembelajaran hakikat keberagaman dirampok para elite yang haus kekuasaan dengan membelah masyarakat yang multietnik dan multikultural.

Dalam konteks kontestasi di tahun politik itulah kita berharap, sangat berharap, persaingan antara calon presiden Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tetap mengedepankan keutuhan bangsa. Persatuan dan kesatuan bangsa  ditempatkan di atas kepentingan kontestasi.

Alangkah eloknya jika Imlek di tahun politik ini dijadikan momentum untuk setiap anak bangsa, termasuk keturunan Tionghoa, terpanggil untuk kembali merajut kebersamaan sebagai satu bangsa. Gus Dur pernah mengungkapkan perlunya bangsa ini  membuka semua pintu kehidupan bagi bangsa Tionghoa, sehingga mereka bisa dituntut sepenuhnya menjadi bangsa Indonesia.

Gus Dur memang paham benar bahwa nasionalisme bukanlah keniscayaan dan bukan pula karena keseragaman. Namun nasionalisme bisa tumbuh dalam kelompok manapun ketika dipupuk dengan kesetaraan dan pengakuan. Ketika dua hal tersebut telah terpenuhi, nasionalisme dapat ditagih.

Nasionalisme perlu di pupuk di tingkat akar rumput, juga utamanya di kalangan elite yang mental diskriminatif masih kental bercokol. Segala perbedaan, baik ras dan agama, dijadikan bahan untuk menjatuhkan. Panggung politik kita ibarat film dengan adegan yang jauh mundur ke belakang.

Kita tidak akan pernah bisa menjadikan bangsa ini seragam. Ketika kita memusuhi keberagaman sesungguhnya kita membuat kehancuran bangsa itu sendiri. Perayaan Imlek hendaknya semakin menguatkan keberagaman bangsa.

BACA JUGA
BERITA LAINNYA