Bersama-sama Jaga Indonesia



Views : 2456 - 21 January 2019, 05:00 WIB

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia ibarat tubuh yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Satu bagian terluka, sakitnya terasa di sekujur tubuh bangsa. Karena itu, segenap anak negeri perlu bergandengan tangan menjaga dan merawat Indonesia.

Bergandengan tangan menjaga Indonesia bermakna seluruh komponen bangsa bersekutu merawat keragaman sebab keragaman itulah yang menjadi kekayaan bangsa. Menjaga Indonesia sesungguhnya ialah ikhtiar untuk terus merawat Bhinneka Tunggal Ika.

Indonesia dilahirkan sebagai bangsa beragam. Terdapat sekitar 700 suku, lebih dari 1.000 bahasa lokal, serta jumlah penduduk nomor empat terbesar dunia yang tersebar di sekitar 17 ribu pulau. Kesadaran mengenai kebinekaan akan menumbuhkan sikap saling menghargai dan memandang perbedaan sebagai anugerah yang wajib dijaga dan dirawat.

Keragaman negeri ini, diakui atau tidak, sedang diuji dengan membanjirnya serbuan berita bohong dan informasi menyesatkan. Apalagi di tahun politik ini, hoaks menjadi ancaman serius. Disebut ancaman serius karena pembuat berita bohong bermaksud mendelegitimasi proses pemilu yang sedang berlangsung demi meraih kekuasaan.

Disadari atau tidak, penyebaran hoaks di media sosial telah menjadi bagian dari permainan busuk politik. Pelakunya ialah elite atau orang yang berafiliasi dengan kelompok kepentingan dalam kontestasi politik. Fenomena itu pun tidak khas Indonesia karena negara lain, seperti Amerika Serikat dan Brasil, juga menghadapi peredaran hoaks dalam kontestasi politik mereka.

Industri hoaks sangat menyadari bahwa informasi bohong disertai data abal-abal menjadi sarana ampuh untuk menciptakan persepsi publik. Tujuannya tentu saja meraih dukungan dan suara dalam kontestasi politik.

Arus hoaks yang kian deras mengalir di media sosial berpotensi membuat polarisasi dalam masyarakat. Berpotensi membelah warga berdasarkan pilihan politik. Hoaks yang terus diproduksi di media sosial sudah mulai merongrong keutuhan bangsa.

Hoaks harus dilawan. Kita tidak boleh berpangku tangan, harus bersama-sama turun tangan melawan hoaks sekarang juga. Melawan hoaks pada dasarnya sebuah ikhtiar merawat negeri.

Tentu saja dibutuhkan peranan pers yang berkualitas untuk melawan hoaks. Kualitas itulah yang tak lelah dibenahi pers agar masyarakat kembali merujuk ke media tepercaya yang dapat diuji secara waktu.

Kualitas pers dibangun di atas kemerdekaan. Pada butir konsiderans menimbang dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, kemerdekaan pers itu menjadi perhatian utama.

Disebutkan, kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis sehingga kemerdekaan mengeluarkan pikiran dan pendapat sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 harus dijamin.

Menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis itulah yang selalu dijunjung tinggi pers nasional yang mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Sebagai bagian dari pers nasional, harian ini yang pada 19 Januari memasuki usia 49 tahun secara sadar mengangkat tema Menjaga Indonesia. Ada lima pilar yang mesti dijaga, yaitu ekonomi, keberagaman, kesehatan, lingkungan, dan pendidikan.

Ada komitmen kuat, sangat kuat, untuk bersama-sama dengan elemen masyarakat lainnya menjaga negeri dari dampak negatif media sosial yang kerap mengganggu demokrasi dan rasionalitas rakyat. Demokrasi akan sungguh-sungguh memperkuat daulat rakyat bila kita senantiasa menjadi sahabat akal waras.

 

BACA JUGA
BERITA LAINNYA