Optimisme Terukur Perekonomian



Views : 3268 - 09 January 2019, 05:00 WIB

MENAPAKI awal 2019, senyum pemerintah merekah. Realisasi penerimaan negara melampaui target dengan belanja nyaris tercapai 100%. Laju inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa pun tetap terjaga di tingkat yang rendah.

Optimisme bertambah. Kali ini disumbangkan tren nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cenderung terus menguat. Bahkan, rupiah sempat menembus kembali level 13-an ribu, setelah pada tutup 2018 masih berada di 14.390 per dolar AS.

Rupiah memang kembali tergelincir ke 14.145 per dolar AS, kemarin. Meski begitu, banyak kalangan baik pelaku pasar maupun ekonom memperkirakan penguatan rupiah masih akan berlanjut. Mereka meyakini rupiah bakal kembali bertengger di 13-an ribu.

Kondisi eksternal berperan besar dalam menentukan pergerakan rupiah. Tahun lalu, rupiah dibuat babak belur oleh ekspektasi penaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat. Ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok turut melesakkan hantaman terhadap rupiah.

Perkembangan situasi eksternal pula yang membawa rupiah terapresiasi. Rupiah perlahan terangkat dari level terburuk sepanjang sejarah, yakni di atas 15.000. Tren penaikan suku bunga acuan AS yang lebih landai ketimbang ekspektasi, prospek pertumbuhan AS yang melemah, dan antisipasi kesepakatan dagang AS-Tiongkok membuat rupiah semringah.

Namun, penguatan rupiah tak semata akibat faktor eksternal. Tidak dapat dimungkiri ada peran kondisi internal dalam pergerakan mata uang kita menjadi lebih perkasa.

Sudah menjadi tabiat pelaku pasar untuk melihat fundamen perekonomian ketika angin segar berembus ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Semakin baik indikator-indikator perekonomian negara yang bersangkutan, penguatan mata uang yang didapat kian besar.

Seperti yang terjadi pada Indonesia. Dalam lonjakan penguatan rupiah terdapat apresiasi atas fundamen ekonomi. Pertumbuhan tetap melaju di tingkat yang moderat kendati perekonomian global lesu. Inflasi juga cenderung jinak, bahkan di periode libur Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. APBN pun terkelola dengan baik.    

Sebaliknya, pelaku pasar hanya akan fokus pada indikator paling lemah ketika gelombang tekanan mata uang melanda. Walau fundamen perekonomian Indonesia tergolong baik, ada lubang menganga dalam bentuk defisit transaksi berjalan. Itu membuat rupiah terpuruk lebih dalam dari nilai semestinya pada saat mendapat tekanan.

Menutup lubang tersebut ialah syarat mutlak memperbaiki ketahanan nilai tukar rupiah. Tantangan terletak pada kemauan dan kemampuan memoles daya tarik investasi langsung.  

Pemerintah memang sudah menempuh sejumlah cara untuk memperbaiki iklim berusaha mulai perbaikan birokrasi, regulasi, hingga kebijakan insentif fiskal. Bank Dunia melalui pemeringkatan kemudahan berusaha 2018 pun mengakui terdapat sejumlah perbaikan yang telah dilakukan Indonesia. Skor yang diperoleh Indonesia naik.

Akan tetapi, peringkat Indonesia turun dari ke-72 menjadi ke-73. Artinya, perbaikan kemudahan berbisnis di Indonesia tidak seagresif negara-negara lain.

Tugas pemerintah tidak hanya menelurkan dan menerapkan kebijakan. Pemerintah juga harus tanpa henti mengevaluasi efektivitas tiap kebijakan dan segera memperbaiki kebijakan yang majal. Dengan begitu, akan timbul pula optimisme terukur terhadap perekonomian kita, bukan optimisme buta tanpa dasar yang solid.

 

BACA JUGA
BERITA LAINNYA