Saatnya Merawat Aset Pemersatu



Views : 4079 - 03 November 2018, 05:00 WIB

BAHASA Indonesia ialah aset terpenting menjaga persatuan bangsa ini. Itu harus ditegaskan dengan penuh tekanan sebab kita memuji Sumpah Pemuda sebagai kesepakatan para genius Nusantara. Akan tetapi, kini ada fenomena bahasa Indonesia tak dimuliakan lagi. Padahal, bahasa Indonesia telah 90 tahun merekatkan bangsa yang memiliki 668 bahasa daerah ini. Bayangkan kita tanpa bahasa Indonesia!

Ironisnya, bahasa Indonesia kini dipinggirkan bukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh kita sendiri, ahli waris Sumpah Pemuda itu. Lihat saja ruang-ruang publik kita; datanglah ke pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota, kita akan membaca merek-merek dagang asing yang membuat kita terasa tak di Indonesia.

Banyak generasi sekarang lebih mengenal nama dan istilah tertentu dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Kita tengah membesarkan putra-putri bangsa yang tercerabut dari akar sejarah dan budaya sendiri. Apa artinya membangun karakter bangsa jika bahasanya tak dihargai?

Itu sebabnya, Kongres Bahasa Indonesia (KBI) XI di Jakarta pada 28-31 Oktober yang dihelat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menjadi amat penting. KBI XI yang mengambil tema Menjayakan bahasa Indonesia dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla, diikuti 1.000 lebih peserta, dan menghadirkan 100 pembicara dari dalam dan luar negeri.

Kenapa KBI XI penting? Pertama, karena bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu tengah mengalami perundungan di negeri sendiri. Kedua, kontestasi politik telah membelah bangsa ini dengan amat tajam. Kita lupa bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa (nasional) satu. Ketiga, kita tengah dilanda banjir informasi bohong, ujaran kebencian, dan fitnah, khususnya di media sosial. Salah satu bahaya fenomena itu, kita bisa melahirkan generasi pembenci.

Wapres Jusuf Kalla pun mengingatkan agar bahasa Indonesia dikembangkan sesuai dengan zaman. Ia juga mengungkapkan fakta bahwa di kalangan kelas menengah bahasa Inggris justru menjadi kebanggaan. Banyak orangtua menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan yang memakai bahasa pengantar bahasa Inggris. Akibatnya, anak-anak sulit menggunakan bahasa Indonesia, bahasa mereka sendiri!

Padahal, Undang-Undang No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, menyebutkan bahwa bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa dan kebanggaan nasional. Jati diri berkaitan dengan gambaran dan identitas bangsa ini, dan kebanggaan nasional berarti kebesaran hati bangsa. Bagaimana sebuah identitas mulia (bangsa yang ramah dan gotong royong) jadi saling membenci? Bagaimana pula sebuah kebanggaan nasional tetapi tak serius dirawat dan tak dihormati?

Beberapa rekomendasi dari 22 butir rekomendasi KBI XI, antara lain, pemerintah harus menertibkan penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan di sekolah. Pemerintah juga harus memperluas penerapan uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI) di berbagai lembaga pemerintah dan swasta.

Selain itu, pemerintah harus menegakkan peraturan perundang-undangan kebahasaan dengan mendorong penerbitan peraturan daerah yang memuat sanksi atas pelanggaran. Pemerintah daerah pun diminta berkomitmen dalam mengutamakan penggunaaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara di ruang publik.

Untuk kepentingan internasionalisasi bahasa Indonesia, pemerintah perlu meningkatkan sinergi, baik di dalam maupun luar negeri, serta mengembangkan strategi dan diplomasi kebahasaan. Dalam hal ini tentu perlu para diplomat yang menguasai bahasa dan budaya Indonesia. Di masa Soekarno, Indonesia sukses melakukan diplomasi kebudayaan.

Rumusan lain, para pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA) yang kini ada di 45 negara harus meningkatkan profesionalisme. Ada keluhan dari pengajar bahasa Indonesia dari luar negeri bahwa beberapa pengajar BIPA yang dikirim ke luar negeri masih bermental malas.

Meski menghadapi beberapa persoalan, KBI XI merekomendasikan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional pada 2045. Alasannya, bahasa Indonesia termasuk yang penuturnya besar di dunia. Bahasa Indonesia juga tidak sulit dipelajari. Kini bahasa Indonesia telah menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan terus didorong sebagai bahasa ilmu pengetahuan modern. Karena itu, harus dikembangkan kamus bidang ilmu dan teknologi. Momentum 2045 dipakai karena bersamaan dengan saat kita menikmati bonus demografi.

Tidak ada pilihan lain, butir-butir rekomendasi KBI XI harus dilaksanakan dengan baik. Namun, itu hanya bisa terwujud jika pemerintah dan seluruh komponen bangsa ini mendukungnya. Tanpa keseriusan, artinya kita membiarkan alat pemersatu bangsa yang paling penting ini tumbuh tak terawat dan tanpa arah. Alangkah malangnya bangsa ini, tak mampu merawat miliknya yang paling berharga.

BACA JUGA
BERITA LAINNYA