Jangan Ragu Audit Lion Air



Views : 5005 - 01 November 2018, 05:00 WIB

KETEGASAN pemerintah jelas hal yang ditunggu-tunggu terkait dengan kecelakaan Lion Air pada Senin (29/10) di perairan Karawang, Jawa Barat. Ketegasan tentu saja tidak sama maknanya dengan sanksi asal gebuk.

Sanksi asal gebuk bisa malah jadi sekadar kemarahan tidak solutif. Atau malah, lebih parah, sekadar penghibur lara para korban dan justru mengaburkan perkara sebenarnya.

Langkah Menteri Perhubungan Budi Karya yang mencopot Direktur Teknik Lion Air tentu saja bukan ketegasan sikap yang ditunggu-tunggu, juga bukanlah sanksi yang diharapkan dari sebuah kementerian.

Kementerian Perhubungan ialah regulator yang sesungguhnya bermain pada tataran kebijakan lebih tinggi, yakni kebijakan yang berdampak pada pemimpin dan pemilik perusahaan. Tidak perlu seorang menteri turun tangan hanya untuk memberhentikan seorang direktur teknik.

Harus tegas dikatakan bahwa hal yang ditunggu-tunggu masyarakat dari seorang menteri ialah sanksi apa yang diberikan kepada manajemen Lion Air. Sejauh ini, Menteri Perhubungan kukuh menunggu hasil penyelidikan yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Menurut Menteri Perhubungan, hasil penyelidikan KNKT nantinya akan digunakan sebagai landasan pihaknya menetapkan sanksi bagi maskapai. Pertanyaan yang mesti dijawab secara transparan ialah mengapa seorang direktur teknik langsung dicopot sementara sanksi untuk perusahaan masih menunggu hasil penyelidikan KNKT.

Harus tegas dikatakan bahwa jangan sampai muncul kesan dalam masyarakat bahwa Direktur Teknik Lion Air menjadi kambing hitam. Seolah-olah kesalahan sebuah institusi hanya ditimpakan pada satu orang.

Tidaklah berlebihan bila publik berharap agar Kementerian Perhubungan segera melakukan pembenahan menyeluruh terhadap dunia penerbangan, khususnya Lion Air. Pembenahan itu sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk memperketat manajemen keselamatan penumpang dan manajemen keamanan pesawat.

Arahan Presiden itu hendaknya dimulai dengan sesegera mungkin melakukan proses audit menyeluruh terhadap Lion Air. Jangan ragu-ragu untuk melakukannya. Audit itu juga semestinya mengkaji berbagai kecelakaan yang terjadi sebelumnya, termasuk pelayanan yang dianggap belum memuaskan.

Sejak 2002, setidaknya sudah 13 kecelakaan dialami maskapai milik pengusaha Rusdi Kirana tersebut. Sementara itu, keterlambatan penerbangan sudah sering dikeluhkan penumpang.

Sederet kecelakaan itu sudah mencerminkan kinerja manajemen Lion Air. Kejadian-kejadian itu juga bukti nyata bahwa sesungguhnya tidak ada kecelakaan fatal yang tiba-tiba saja terjadi, terlebih setelah faktor lain seperti cuaca dan serangan terorisme tidak berlaku.

Jangan-jangan lampu kuning pada keselamatan Lion Air telah lama menyala dan kita selama ini tidak mengacuhkan. Kita sibuk mencari penyebab kecelakaan dan selalu mencari faktor lain yang sebenarnya hanya minor berpengaruh.

Lebih celaka lagi bila ada pihak yang mengganggap buruknya pelayanan sebagai pemakluman risiko low cost carrier (LCC). Penerbangan bertarif rendah itu ada di semua negara, tetapi di negara lain manajemen keselamatan penumpang itu betul-betul terus diperketat.

Industri penerbangan sesungguhnya mencerminkan peradaban sebuah bangsa. Bangsa yang beradab tidak pernah mencari kambing hitam saat terjadi kecelakaan pesawat. Saatnya dilakukan pembenahan menyeluruh terhadap dunia penerbangan agar adab kita naik kelas.

BACA JUGA
BERITA LAINNYA