Bersama-sama Menjaga Laut



Views : 3696 - 31 October 2018, 05:00 WIB

INDONESIA ialah negeri dengan takdir maritim. Secara alamiah sebagian besar wilayah negeri ini didominasi laut. Luas lautnya mencapai 75% dari keseluruhan luas wilayah, atau tiga kali lipat dari luas daratannya. Garis pantainya memanjang sejauh 108 ribu kilometer.

Fakta-fakta tersebut tidak terbantahkan. Itulah salah satu keunggulan Republik ini yang tak bisa ditandingi negara mana pun di dunia ini. Dengan kondisi geografis seperti itu, Indonesia ibarat versi kecil dari bumi. Mengapa begitu? Karena sekitar 70% permukaan bumi juga tertutup oleh laut dan samudra.

Dengan luasan tersebut, baik dalam skop Indonesia maupun bumi secara umum, jelas laut memiliki peranan penting dalam kehidupan. Akan tetapi, laut yang teramat luas menuntut pula sebuah tanggung jawab yang besar untuk merawat dan melindunginya setiap waktu. Laut tak layak diperlakukan seolah sebagai wilayah tak bertuan dan tanpa penjagaan.

Perlindungan laut mesti komprehensif mengingat 'perusak' laut datang dari segala penjuru. Bahkan sumber pencemaran dan kerusakan laut banyak berasal dari kegiatan yang berbasis di daratan. Itu bisa dilihat dari air limbah, dan sampah, terutama plastik, dari darat yang masih banyak membanjiri dan membuat rusak habitat laut. Belum lagi sumber-sumber pencemar lainnya yang telah meningkatkan risiko bagi lingkungan laut dan kesehatan manusia.

Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan wilayah laut terluas patut mengambil tanggung jawab itu. Bagaimanapun penjagaan terhadap laut bukan saja bertujuan melindungi dan melestarikan lingkungan laut itu sendiri, melainkan juga demi meminimalkan dampak perubahan iklim karena laut merupakan salah satu aspek yang terdampak pemanasan global.

Namun, tentu saja, Indonesia tak bisa bergerak sendiri. Perlu komitmen dan kerja sama antarnegara, antarregional, antarwilayah untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut dari dampak negatif kelautan, termasuk yang berasal dari basis daratan.

Dalam konteks tersebut, didapuknya Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan The Fourth Intergovernmental Review on Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Landbased Activity (IGR-4 on GPA), mulai hari ini hingga besok, wajib hukumnya kita optimalkan demi meningkatkan kerja sama serta memperkuat kebijakan perlindungan dan pembangunan terkait pesisir dan laut.

Menjadi tuan rumah untuk IGR-4 yang dihadiri menteri lingkungan sedunia itu juga dapat dijadikan ajang untuk menunjukkan inisiatif serta pengalaman Indonesia dalam melaksanakan aksi perlindungan laut di tingkat nasional dan lokal. Jangan lupakan pula momen itu mesti dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi dan program demi melindungi laut dari kegiatan berbasis daratan. Inisiatif-inisiatif seperti itu perlu dipupuk jika benar Indonesia ingin menjadi poros maritim dunia.

Sudah saatnya laut menjadi fokus kita bersama. Kibarkan spirit dan kultur bahari, buang jauh-jauh mentalitas feodalisme darat. Laut yang memberi hidup dan kehidupan ialah laut yang senantiasa dijaga, dirawat, dan dilindungi. Kita mesti sadar bahwa bumi semakin menua. Karena itu, laut dan samudra wajib dibela dan dijaga.

Segala perusakan serta penghancuran lingkungan kini sudah melampaui batas. Jangan biarkan laut bergelut menghadapi masalahnya sendiri. Sementara itu, kita, para penghuni darat, malah menikmati peran sebagai sumber kerusakan alam laut dengan mengatasnamakan ekonomi, kekuasaan, dan keserakahan.

 

BACA JUGA
BERITA LAINNYA