Pahlawan di Tengah Bencana



Views : 6210 - 03 October 2018, 05:00 WIB

BENCANA selalu menghadirkan duka dan nestapa. Meskipun demikian, di saat itu pula kepedulian datang dari sesama. Pun dengan bencana gempa yang disusul terjangan tsunami yang meluluhlantakkan Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan sekitarnya di Provinsi Sulawesi Tengah.

Palu dan Donggala hancur dalam sekejap pada Jumat (28/9) sore tatkala bumi melepaskan energi destruktif dari perutnya. Ribuan nyawa manusia terenggut, puluhan ribu warga mengungsi, rumah, gedung, dan fasilitas-fasilitas umum pun porak poranda. Sungguh, murka alam kali ini menimbulkan daya rusak luar biasa di bumi Sulawesi Tengah.

Bangsa ini berduka, amat berduka. Derita tak terperikan yang mendera sesama anak bangsa di Palu dan Donggala ialah derita kita semua. Simpati dan empati tiada henti kita sampaikan kepada mereka yang kehilangan kerabat, harta benda, dan hingga kini harus bertahan hidup dalam derita.

Jelas, sangatlah tidak ringan penderitaan yang disandang warga Palu, Donggala, dan sekitarnya yang terdampak bencana. Tugas seluruh anak bangsalah untuk ikut meringankan beban mereka dengan beragam cara sesuai kemampuan kita.
 
Pada konteks itulah kita mengapungkan apresiasi setinggi-tinginya kepada para relawan, TNI, Polri, tim search and rescue atau SAR, dan seluruh pihak yang bertindak nyata di lapangan. Mereka tanpa kenal waktu mencari dan mengevakuasi para korban. Mereka tanpa kenal lelah menyalurkan bantuan di tengah sulitnya medan.

Beberapa jam setelah gempa dan tsunami melanda, misalnya, personel TNI langsung diberangkatkan ke Palu dari Jakarta. Itulah wujud nyata dari tanggung jawab TNI sebagai tentara rakyat, tentara yang dilahirkan untuk melindungi dan membantu rakyat setiap saat.

Demikian halnya dengan Polri. Tak cuma membantu dalam pencarian dan evakuasi korban serta mendistribusikan bantuan, mereka juga berkewajiban memastikan keamanan. Maraknya tindak kriminal oleh para residivis dan narapidana yang kabur dari lembaga pemasyarakatan menambah tugas Korps Bhayangkara.

Tim SAR dan relawan dari beragam kalangan pun menunjukkan komitmen luar biasa. Fisik, mental, dan stabilitas emosi betul-betul diuji. Meskipun begitu, mereka mampu unjuk diri dalam menjalani tugas suci itu dengan sepenuh hati.

Para relawan berjuang sekuat tenaga agar orang lain yang sama sekali tak mereka kenal sebelumnya terselamatkan, atau ketika mendapati korban tewas, mereka sigap mengevakuasinya.

Mereka, para relawan itu, beraksi dengan hati dan bekerja sepenuh jiwa. Mereka tidak mencari popularitas, tetapi bertindak mulia semata karena pertimbangan kemanusiaan. Mereka telah, sedang, dan akan terus menunaikan tugas agung dalam membantu sesama.

Tiada kata yang lebih tepat untuk kita alamatkan kepada para relawan kecuali kata 'salut'. Tegas kita katakan bahwa mereka adalah pahlawan. Mereka memang tak membutuhkan puja-puji, tak perlu publikasi, dan tak pula menginginkan apresiasi, tetapi kita harus memuji dan mengapresiasi mereka.

Apresiasi patut pula kita sampaikan kepada para dermawan yang dengan tulus memberikan bantuan bagi korban bencana di Sulawesi Tengah. Itulah sejatinya gen bangsa Indonesia yang sedari dulu gemar tolong-menolong dan menjunjung tinggi semangat gotong royong. Apa pun bentuk dan nilainya, sumbangsih yang kita berikan sangat berarti bagi para korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.
 
Para relawan dan dermawan di Palu dan Donggala ialah inspirasi bagi kita tentang bagaimana memperlakukan sesama anak bangsa. Mereka jauh lebih mulia ketimbang pihak-pihak yang tidak melakukan apa-apa tapi sibuk mencari kekurangan dalam penanganan bencana.

 

BACA JUGA
BERITA LAINNYA