Harapan di Debat Penghabisan



Views : 1910 - 22 June 2018, 05:05 WIB

PEKAN ini, debat publik para calon kepala daerah di ajang Pilkada 2018 mencapai babak penghabisan. Kegiatan kampanye juga terakhir dilaksanakan pada Sabtu (23/6) bersamaan dengan debat publik pamungkas tersebut.

Sampai hari itu, tiap pasangan calon kepala daerah masih berkesempatan meraih simpati pemilih melalui ajang debat ataupun kampanye. Tentu dengan harapan simpati yang didapat itu kemudian naik kelas dengan mewujud sebagai dukungan suara pada Rabu, 27 Juni.

Di ajang debat, para calon gubernur, wali kota, dan bupati mesti menunjukkan bahwa mereka benar-benar layak dan berkemampuan mengemban amanah sebagai kepala daerah. Terlebih dalam debat pamungkas, tiap calon kepala daerah seyogianya mengeluarkan segala daya agar mampu meyakinkan pemilih.

Sasaran terutama diarahkan pada pemilih yang masih ragu menentukan pilihan. Sudah jamak terjadi hingga pekan terakhir masih ada saja pemilih yang belum menambatkan aspirasi. Pun bukan tidak mungkin di waktu-waktu terakhir, pemilih yang sudah menetapkan pilihan memutuskan untuk pindah ke calon kepala daerah lain. Berubahnya pilihan bisa disebabkan berbagai sebab, salah satunya debat pamungkas.

Meski jumlah pemilih semacam itu tidak banyak, keputusan mereka bisa sangat memengaruhi hasil pemungutan suara. Utamanya dalam pilkada yang para calonnya terlihat bersaing sangat ketat. Contohnya pemilihan Gubernur Sumatra Utara.

Berdasarkan hasil survei Indobarometer, elektabilitas pasangan Djarot Saiful-Sihar PH Sitorus dan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah hanya terpaut 0,9%. Djarot-Sihar lebih unggul daripada Edy-Musa.

Survei dilakukan sebelum pelaksanaan debat pamungkas. Keadaan bisa saja berbalik ketika sejumlah pemilih mengubah pilihan setelah menyimak debat ataupun kegiatan kampanye hari-hari terakhir. Di hari-hari penghabisan ini kepiawaian calon kepala daerah bersama tim sukses mereka dalam menggaet pemilih menghadapi ujian final.

Efektivitas debat publik bergantung pula pada jumlah pemilih yang menyimak debat. Jumlah penonton bisa dibilang merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan debat publik.

Sementara itu, kesuksesan penyelenggaraan debat merupakan tanggung jawab penyelenggara pemilu. Oleh karena itu, alangkah baiknya bila Komisi Pemilihan Umum ikut mengupayakan menarik minat lebih banyak pemilih untuk ramai-ramai menonton debat penghabisan.

Di lain pihak, pemilih yang rasional tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mematangkan pilihan dari isi debat pamungkas. Pemilih juga akan mendapatkan tiga hari masa tenang sebelum melangkahkan kaki menuju tempat pemungutan suara.

Di masa tenang, pemegang hak suara masih bisa menimbang-nimbang kembali pilihan tanpa tekanan kampanye, apalagi intimidasi.

Pemilih rasional tidak mudah terpengaruh oleh hasutan kampanye hitam dan tidak pula tergiur oleh politik uang. Mereka para pejuang demokrasi yang lambat laun membuat hasutan dan iming-iming ilegal semakin tidak laku dalam pilkada.

Bagi mereka, kapabilitas calon kepala daerah beserta kualitas program yang ditawarkan calon kepala daerah menjadi pertimbangan utama. Dengan begitu, demokrasi lokal yang sehat akan terwujud dan kepala-kepala daerah mumpuni terlahir.

BACA JUGA