Melewati Masa Kritis Gejolak Harga Pangan



Views : 3455 - 13 June 2018, 05:00 WIB

TAHUN ini, melambungnya harga pangan yang kerap terjadi selama Ramadan dan jelang Idul Fitri kembali bisa diredam. Tidak tercatat lonjakan harga bahan-bahan pokok yang membuat konsumen rumah tangga kelabakan. Kesuksesan tahun ini memperpanjang cacatan positif pemerintah dalam menjinakkan harga pangan yang juga dilakukan tahun lalu.

Kita pantas mengapresiasi upaya pemerintah yang telah berani melakukan langkah perubahan dan mengakhiri horor lonjakan harga bahan pokok yang sulit diatasi dari pemerintahan ke pemerintahan terdahulu. Apalagi, ketika sudah dua kali berhasil, pemerintah memang punya resep dan kebijakan jitu, bukan karena faktor-faktor lain yang lebih bersifat insidental.

Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah membuktikan penyakit kronis gejolak harga pangan bisa diakhiri melalui kecermatan, juga kemauan pemerintah untuk mencari akar masalah. Dua sektor yang dibenahi ialah pasokan dan aksi-aksi spekulasi.

Kementerian Perdagangan sebagai leading sector menegaskan enggan menyerahkan sepenuhnya harga bahan pokok lewat mekanisme pasar yang sebenarnya kerap ditunggangi para spekulan.

Selama ini para mafia pangan dibiarkan meraih keuntungan yang berlipat-lipat. Mereka menimbun pangan sehingga terjadi keterbatasan pasokan di pasar yang menyebabkan harga melonjak. Ketika harga melonjak, mereka baru melepas pangan yang mereka timbun supaya mereka mendapat keuntungan berlipat ganda.

Namun, sejak tahun lalu, pola pengawasan telah diubah. Pasokan dan harga dipantau secara berkelanjutan oleh Satuan Tugas (Satgas) Pangan. Pemerintah, sejak jauh hari sebelum Ramadan, juga telah bertemu dengan para pemangku kepentingan untuk berdialog soal periode kritis menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Langkah antisipasi kenaikan harga pangan juga telah dilakukan sejak tahun lalu, dengan mengidentifikasi ketersediaan stok dan harga pangan, baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah.

Identifikasi itu dilakukan Kemendag dengan menerapkan kewajiban melapor kepada para pedagang sembako berkategori distributor, subdistributor, dan agen. Mereka wajib membuat laporan stok yang mereka miliki. Jika lupa melapor, tudingan sebagai pedagang ilegal dan melanggar hukum sudah menunggu.

Upaya-upaya itu terbukti efektif. Dalam dua kali Ramadan dan Lebaran, pasokan dan harga terpantau stabil. Dengan memastikan stok terus berada di pasaran, cara itu terbukti ampuh untuk menekan kenaikan harga di luar kendali.

Pasokan bahan pangan aman karena pemerintah mempunyai instrumen identifikasi yang akurat. Pemerintah jadi punya waktu mengantisipasi dengan menyiapkan berbagai komoditas yang rentan mengalami gejolak sejak dua sampai tiga bulan sebelumnya.

Meski demikian, cerita sukses pemerintah ini menjadi langkah awal menuju kedaulatan pangan yang tidak bisa dicapai dengan sekadar menyiapkan stok yang cukup, menjaga distribusi aman dan lancar, dan menghabisi para spekulan.

Kedaulatan pangan akan terjadi jika bangsa ini tidak bergantung lagi pada pasokan luar negeri. Kita tahu, komoditas pangan utama seperti beras, daging, dan sejumlah produk hortikultura tidak bisa dilepaskan dari impor.

Memacu modernisasi dan industrialisasi sektor pertanian dan pangan menjadi kuncinya. Ketersediaan infrastruktur pertanian, termasuk infrastruktur distribusi, juga kecukupan pasokan dan riset pertanian tidak boleh lagi dianaktirikan. Semua itu menjadi tugas Kementerian Pertanian.

 

BACA JUGA