Optimisme untuk Rupiah



Views : 1053 - 10 May 2018, 05:05 WIB

PEREKONOMIAN Indonesia kembali menghadapi ujian dengan jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Memang rupiah belum mencapai titik 14.700 per dolar AS seperti yang sempat terjadi pada 2015. Akan tetapi, tren yang cenderung terus melemah membuat nilai tukar rupiah menjadi topik paling hangat dibicarakan belakangan ini.

Seperti juga yang terjadi pada 2015, faktor eksternal yang dimotori oleh penaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu melemahnya rupiah. Tidak banyak yang bisa dilakukan dari sisi kebijakan dalam negeri untuk meredam laju turunnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Khususnya, dalam jangka pendek.

Selain kesigapan Bank Indonesia (BI) mengintervensi pasar uang, satu hal yang mesti dijaga adalah sentimen positif terhadap kondisi internal Indonesia. Itu tidak mudah, apalagi dengan capaian pertumbuhan ekonomi di triwulan 1 2018 yang masih moderat di sekitar 5%.

Neraca perdagangan yang berbalik surplus di Maret lalu menerbitkan secercah harapan. Surplus bisa kembali dicapai pada perdagangan April dan seterusnya. Melemahnya nilai rupiah seharusnya menjadi pendorong nilai ekspor yang lebih besar karena harga komoditas Indonesia di pasar dunia kini lebih murah.

Di sisi lain, kenaikan harga-harga barang maupun jasa membayangi dengan makin mahalnya barang impor. Apalagi di saat permintaan domestik yang naik selama periode bulan puasa dan lebaran. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk memengaruhi harga beli dari negara asal. Namun, pemerintah dapat meredam pembengkakan harga yang diterima konsumen dengan mengefisienkan saluran distribusi.

Bukankah baru dua hari lalu Presiden mengundang 70 sopir truk ke Istana untuk mendengarkan keluh kesah mereka? Terungkaplah pungli dan penodongan oleh preman yang masif hingga membuat sopir truk harus membayar hingga Rp3 juta untuk tiap kali perjalanan pergi. Pulang pergi berarti mereka harus menyediakan biaya ekstra Rp6 juta. Ini momentum untuk menggasak habis premanisme dan pungli di rantai distribusi.

Hasil-hasil positif di dalam negeri akan sangat berpengaruh dalam memperkuat ketahanan rupiah. Itu juga mesti diiringi dengan manajemen situasi di dalam negeri untuk mencegah kepanikan yang rawan memperburuk kondisi.

Diseminasi informasi tentang kerusuhan di rumah tahanan Mako Brimob, misalnya. Di tengah informasi resmi yang lamban hadir, isu-isu pun berseliweran seakan-akan teroris menguasai rumah tahanan tersebut dengan senjata lengkap. Kesigapan aparat maupun pemerintah untuk memberikan ketenangan bagi pasar maupun masyarakat melalui kejelasan informasi sangatlah penting.

Fundamental perekonomian kita cukup kuat. Terbukti, rupiah yang berkali-kali mendapat gempuran selalu mampu bangkit. Tekanan yang kuat justru dikobarkan oleh kepanikan yang tidak perlu.

Dalam jangka panjang, kebijakan ekonomi mau tidak mau harus fokus pada penguatan ekspor yang bukan mengandalkan pada nilai rupiah yang lemah. Solusinya tetap klasik, seperti penguatan hilirisasi untuk ekspor dan subtitusi barang impor, serta ekspansi ke pasar yang belum banyak dirambah. Tidak lupa terus merawat optimisme karena hanya pikiran positif yang bisa melahirkan hasil yang positif. Pesimisme dan paranoia hanya milik para pecundang.

BACA JUGA